12 Mei 2009

HERNIA ANESTESI LOKAL

EVALUASI PENGGUNAAN ANESTESI LOKAL PADA PENANGANAN 100 KASUS HERNIA INGUINALIS LATERALIS DENGAN HERNIOPLASTI METODE LICHTENSTEIN PERIODE JANUARI 2007-JUNI 2008

Oleh :
dr. Heru Seno Wibowo. SpB

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Hernia pada dinding perut merupakan penyakit yang sering dijumpai dan memerlukan suatu tindakan pembedahan (1). Hernia inguinalis lateralis sering dijumpai pada pria. Angka kejadian pria adalah 12 kali lebih sering dibanding wanita (2). Pada wanita kurang lebih didapatkan 4 persen dibandingkan pria. (3). Sampai saat ini terjadinya hernia pada orang dewasa, diketahui oleh karena penyebab sekunder atau didapat yang adekuat. Misal suatu penyakit pembesaran prostat yang jinak, hal ini dapat menyebabkan terjadinya hernia (4). Insidensi Hernia Inguinalis Lateralis adalah 15/1000 , dan total jumlah tindakan hernioraphi sekitar 700.000 kasus pertahun ini akan menimbulkan masalah sosioekonomi yang besar bagi masarakat, tindakan hernioraphi dengan penggunaan general ataupun regional anestesi memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan penggunaan local anestesi,. Dengan penggunaan lokal anestesi efisiensi biaya lebih tinggi disamping itu juga penghematan biaya untuk keluarga penderita karena tidak memerlukan perawatan paska operasi. Komplikasi operasi yang meliputi terjadinya infeksi luka operasi, oedema skrotum dan hematom serta kemungkinan terjadinya kekambuhan tidak begitu berbeda bila dibandingkan dengan penggunaan general anestesi. Dari beberapa studi didapatkan dengan persiapan serta seleksi pasien yang baik lebih dari 90% hernia dapat dilakukan dengan local anestesi, penggunaan mesh tidak meningkatkan resiko infeksi dan apabila terjadi infeksi mesh tidak perlu diangkat. Keuntungan lain penggunaan local anestesi dapat dilakukan uji coba hasil operasi dengan cara batuk ataupun test valsava.Hernia inguinalis lateralis dapat terjadi pada semua umur, namun tersering pada usia antara 45 sampai 75 tahun (2). Penyebab primer terjadinya Hernia inguinalis lateralis sampai saat ini belum ada atau belum pernah dipublikasikan. Hal ini penting untuk diketahui, sehingga diharapkan dapat diketahui diagnosa dini dan tindakan pembedahan untuk mencegah terjadinya hernia yang terperangkap (inkarserata) atau hernia yang tercekik (strangulata). Angka kemungkinan terjadinya hernia strangulata adalah 2,8 persen setelah 3 bulan munculnya hernia dan 4,5 persen setelah 2 tahun (1). Pada HIL jumlah proliferasi dari fibroblast menurun dibanding normal dan kolagenolisis meningkat (5).
Berdasarkan uraian di atas maka pada penelitian ini akan diteliti apakah jumlah fibroblast peritoneum sebagai penyebab primer dari hernia inguinalis lateralis pada orang dewasa dan orang tua.

1.2 Rumusan masalah :
Adakah hubungan antara penggunaan anestesi lokal dengan efisiensi biaya ,kenyamanan selama operasi serta angka kekambuhan

1.3 Tujuan penelitian
1.3.1 Tujuan umum :
Mencari metode alternatip penanganan penderita Hernia Inguinalis Lateralis dengan menggunakan anestesi lokal
Tujuan khusus :
a. Menentukan peranan anestesi local pada penanganan Hernia Inguinalis Lateralis dari sisi efisiensi biaya
b. Mengukur peranan anestesi local pada penanganan Hernia Inguinalis Lateralis dari sisi kenyamanan penderita selama operasi.
c. Mengukur peranan anestesi local pada penanganan Hernia Inguinalis Lateralis dari angka kekambuhan.

1.4 Manfaat penelitian
1.4.1 Manfaat teoritis
Mengetahui pemanfaatan anestesi local sebagai alternative pada penanganan Hernia Inguinalis Lateralis.
Manfaat klinis
a. Anestesi lokal pada penanganan Hernia Inguinalis Lateralis akan menekan biaya operasi.
b. Anestesi lokal pada penanganan Hernia Inguinalis Lateralis masih dapat menekan gangguan rasa nyaman
c. Anestesi lokal pada penanganan Hernia Inguinalis Lateralis angka rekurensi sesuai dengan metode biasa.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hernia
Hernia dalam bahasa latin sering disebut rupture, merupakan suatu penonjolan abnormal melewati suatu dinding rongga yang terbuka (1,5,9). Hernia pada dinding perut merupakan penyakit yang sering dijumpai dan memerlukan suatu tindakan pembedahan. Hernia terdiri atas tiga bagian: kantong Hernia, isi kantong dan pelapis hernia. Kantong hernia merupakan divertikulum peritoneum dan mempunyai leher dan badan. Isi hernia dapat terdiri atas setiap struktur yang ditemukan dan dapat merupakan sepotong kecil omentum sampai organ padat yang besar. Pelapis hernia dibentuk dari lapisan-lapisan dinding abdomen yang dilewati oleh kantong hernia (5,6,9).

Gb1 Bagian-bagian hernia (dikutip dari: anatomi klinik 200)
Pada hernia disebutkan rectus sheath lebih tipis dibanding normal, jumlah proliferasi dari fibroblast menurun dibanding normal dan kolagenolisis meningkat (5).

2.1.1 Klasifikasi Menurut Lokasi
1. Hernia Inguinalis, terjadi bila kantong dan isi hernia masuk ke dalam Annulus Internus.
2. Hernia Femoralis, terjadi bila kantong dan isi hernia masuk ke dalam Canalis Femoralis melalui Annulus Femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan Vena Femoralis sepanjang kurang lebih 2 cm dan keluar pada Fosa Ovalis di pelipatan paha.
3. Hernia hiatal, Bila benjolan terjadi pada diafragma
4. Hernia ventral, Merupakan nama semua hernia yang terjadi pada anterolateral, seperti hernia sikatriks
5. Hernia incisional, terjadi bila benjolan keluar masuk melewati luka bekas operasi
6. Hernia umbilical, merupakan hernia congenital pada umbilicus yang hanya ditutup dengan peritoneum dan kulit (6,10,11)
Terdapat berbagai macam hernia, namun penelitian ini sebatas hernia inguinalis lateralis saja yang dilakukan penelitian.

2.1.2 Hernia Inguinalis Lateralis (HIL)
HIL merupakan suatu benjolan yang melewati suatu dinding yang lemah pada daerah pangkal paha (inguinal ring) sampai dengan skrotum. Benjolan ini dapat keluar masuk tergantung dari tekanan di dalam abdominal (5). Hernia ini masuk ke canalis inguinalis melalui anulus inguinalis profundus yang terletak lateral daripada pembuluh darah arteri dan vena gastrica inferior . Hernia ini dapat meluas sampai ke seluruh bagian panjang canalis inguinalis superfisialis dan turun sampai ke scrotum (9). Hernia inguinalis lateralis sering dijumpai pada pria. Angka kejadian pria adalah 12 kali lebih sering dibanding wanita (2). Pada wanita kurang lebih didapatkan 4 persen dibandingkan pria. (3). Sampai saat ini terjadinya hernia pada orang dewasa, diketahui oleh karena penyebab sekunder atau didapat yang adekuat. Misal suatu penyakit pembesaran prostat yang jinak, hal ini dapat menyebabkan terjadinya hernia (4). Hernia inguinalis lateralis dapat terjadi pada semua umur, namun tersering pada usia antara 45 sampai 75 tahun (2). Penyebab primer terjadinya Hernia inguinalis lateralis sampai saat ini belum ada atau belum pernah dipublikasikan. Hal ini penting untuk diketahui, sehingga diharapkan dapat diketahui diagnosa dini dan tindakan pembedahan untuk mencegah terjadinya hernia yang terperangkap (inkarserata) atau hernia yang tercekik (strangulata). Angka kemungkinan terjadinya hernia strangulata adalah 2,8 persen setelah 3 bulan munculnya hernia dan 4,5 persen setelah 2 tahun (1,8).
Faktor yang dipandang berperan pada terjadinya Hernia Inguinalis adalah 1. terbukanya Prosessus Vaginalis, 2. tekanan intra abdominal yang meningkat dan 3. kelemahan otot dinding perut karena usia (11). Penyebab hernia inguinalis lateralis pada orang dewasa dan orang tua sering dikatakan sekunder oleh karena peningkatan tekanan didalam abdomen. Hal ini bisa terjadi karena batuk kronis, ascites, peningkatan cairan peritoneum oleh karena atresia bilier, pembesaran prostat, tumor abdomen dan obstipasi (5,17). Pada orang sehat ada tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya Hernia Inguinalis, yaitu : 1. Kanalis inguinalis yang berjalan miring, 2. Adanya struktur M. Oblikus Internus Abdominis yang menutup Annulus Inguinalis Internus ketika berkontraksi dan 3. Adanya Fascia Transversa yang menutupi segitiga Hasselbach yang umumnya hampir tidak berotot. Bila terjadi ganguan pada mekanisme diatas dapat menyebabkan terjadinya Hernia Inguinalis. Insiden hernia meningkat dengan bertambahnya usia, yang disebabkan mungkin karena kelemahan otot dinding perut, bagian yang membatasi annulus internus ikut kendur. Pada keadaan ini tekanan intra abdominal tidak tinggi dan canalis ingunalis berjalan lebih vertical. Sebaliknya bila otot dinding perut berkonstraksi, canalis ingunalis berjalan trasnversal dan annulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus ke dalam canalis ingunalis. Kelemahan otot dinding perut terjadi akibat kerusakan nervus ilionguinalis dan nervus iliofemoralis (10).

Gb 2. HIL (dikutip dari "http://en.wikipedia.org/wiki/Indirect_inguinal_hernia" )

Gb3. HIL secara skematis (dikutip dari anatomi klinik 201)

2.1.1 Prosedur Anestesi lokal pada penanganan Hernia Inguinalis Lateralis.
Pilihan terbaik dari penggunaan anestesi pada penanganan Hernia Inguinalis Lateralis adalah dengan penggunaan anestesi lokal, cara ini merupakan cara yang paling aman, sederhana, efektif dan ekonomis tanpa ada efek samping paska anestesi. Disamping itu juga pemberian anestesi lokal sebelum melakukan insisi akan memperpanjang kerja analgesia paska operasi, hal ini disebabkan infiltrasi lokal secara teori akan menghambat pembentukan molekul nosiseptik lokal dan bagaimanapun juga akan menjadikan kontrol yang terbaik pada periode postoperatif. Dari studi eksperimental
Menunjukan perpheral tissue injury akan menghasilkan perubahan yang lebih lama pada proses central dan akan mengurangi ambang respon dan memperlebar tempat penyerapan setelah keluar dari saraf dorsalis.
Lidocain merupakan anestesi yang memilik onset yang cepat sedangkan bupivacain menghasilkan durasi yang paling lama dari lokal anestesia, pengurangan waktu onset dilaporkan dengan penambahan sodium bikarbonat 1 mEq per 10 mL lidokain, penambahan epineprin akan memperpanjang durasi obat anestesi. Penggunaan dua obat anestesi yang berbeda akan menurunkan dosis maksimum bila dibandingkan penggunaan obat anestesi secara tunggal. Prosedur pemberian anestesi lokal pada penanganan Hernia Inguinalis adalah melalui tahap sebagai berikut :
a. Infiltrasi Subdermik.
Sekitar 5 mL campuran anestesi diinfiltrasikan sepanjang garis insisi dengan menggunakan jarun 2 inci no 25 dimasukan dijaringan subdermik paralel dengan permukaan kulit, tahap ini yang paling tidak nyaman dari pemberian lokal anestesi.
b. Injeksi Intradermik
Tahap ini akan menyebabkan oedema pada kulit dengan cara jarum dimasukan pada subdermik plane dan secara perlahan dimasukan sampai ujung dari jarum sampai dilevel intradermik, pada tahap ini tanpa perlu mengangkat keseluruhan jarum infiltrasi intradermik dilakukan dan menjadi oedama dan secara perlahan memasukan larutan sepanjang garis insisi, penambahan sodium bikarbonat akan menaikan pH larutan dan mengurang perasaan rasa terbakar saat infiltrasi.
c. Injeksi Subkutaneus dalam.
Insersi jarum secara vertikal diperlukan untuk memasukan 10 mL larutan anestesi ke subkutaneus bagian dalam, kemudian dilanjutkan dengan menarik jarum untuk mencegah resiko masuk ke intravaskuler.
d. Infiltrasi subfasial.
Sekitar 8 – 10 mL larutan anestesi disuntukan tepat dibawah aponerosis MOE setelah insisi sampai dijaringan subkutis , suntikan cairan ini akan mencapai canalis inguinalis , infiltrasi diberikan disekitar ketiga nervus besar disesuaikan dengan anatomisnya , perlu dilakukan identifikasi N Ilioinguinalis di aponerosis oblikus eksternus untuk mencegah cedera saat melakukan insisi.
e. Injeksi Tuberkulum dan sacus hernia.
Bila diperlukan infiltrasi beberapa mililiter larutan anestesi dituberkulum pubikum disekitar cincin ataupun kantung hernia untuk lebih mendapatkan anestesi yang lebih sempurna.

2.1.2

2.1.3 Gambaran klinis
Sejarah dan pemeriksaan klinis sangat penting dalam menegakkan diagnosa penyakit hernia. Anamnesa dari penyakit yang ada sehingga muncul suatu hernia wajib dilakukan untuk mencari penyebabnya, seperti batuk lama, obtruksi saluran kencing, ascites dan lain sebagainya. Keluhan penyakit ini biasanya oleh karena pasien, orang tua ataupun dokter merasakan adanya penonjolan pada daerah pangkal pada sampai dengan ke skrotum (5,6). Pada orang dewasa kadang dirasakan nyeri pada pangkal paha yang memberat terutama setelah latihan atau batuk, juga adanya nyeri yang bersifat mendadak seperti ditusuk, hal ini oleh karena distribusi dari nervus ilioinguinal sehingga menyebabkan neuralgia pada daerah tersebut (5,6). Pada kantong hernia dapat berisi, organ-organ di dalam abdomen, seperti usus, mesenterium dan cairan. Nyeri hebat, mual, muntah dan perut semakin membesar bila terjadi tercekiknya usus (inkarserata) dan terjadi obstruksi usus yang pada akhirnya menimbulkan kematian usus oleh karena terjepitnya usus beserta dengan pembuluh darah disekitarnya (strangulata). Tidak jarang terjadi infeksi seluruh abdominal (peritonitis generalisata) bila terjadi kebocoran usus (8).
Pemeriksaan pada orang dewasa yang paling baik dengan posisi berdiri, terkadang diperlukan batuk untuk melihat benjolan tersebut keluar (5). Pemeriksaan fisik dapat dengan berbagai cara, seperti thumb test dengan menggunakan ibu jari pada annulus internus, finger test dengan jari telunjuk pada daerah canalis inguinalis dan Zieman test dengan menggunakan jari ke dua, ketiga dan keempat (7). Bila pada pemeriksaan fisik didapatkan benjolan tidak dapat keluar masuk lagi, serta ada warna kebiruan, kemungkinan telah terjadi strangulata usus.

Gb 8. Penempatan jari tangan pada pemeriksaan hernia ( dikutip dari : Richard A, Inguinal Canal and Hernia Examination. 2000)

2.1.4 Penatalaksanaan
Semua pasien hernia inguinalis lateralis sebaiknya harus dilakukan tindakan pembedahan, kecuali dengan faktor resiko tinggi atau terdapat kontra indikasi, misal hernia yang sangat besar, usia yang lanjut dan keaadaan umum yang jelek. Menunda tindakan pembedahan pada pasien hil dapat berakibat terjadinya inkarserata, obstruksi dan strangulata (5,12,14).

2.1.5 Hernioraphi Lichtenstein

2.1.6 Prosedur Anestesi Lokal

BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL

3.2 Hipotesis
Penanganan Hernia Inguinalis Lateralis dapat dikerjakan secara lokal anastesi dengan melakukan herniotomi metode Lichtenstein.

BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis dan rancangan penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian untuk mengetahui penggunaan anestesi lokal pada penanganan Hernia Inguinalis Lateralis dengan metode Herniotomi secara Lichtenstein kemudian dievaluasi dari aspek efisiensi biaya, kenyamanan selama operasi dan angka rekurensi yang terjadi.. Rancangan penelitian yang digunakan adalah observasional analitik cross sectional.

4.2 Populasi, sample, besar sample, teknik pengambilan sample, kriteria inklusi dan eksklusi

4.2.1 Populasi
Populasi penelitian adalah semua kasus hernia inguinalis lateralis yang dioperasi di RSAL Dr. Ramelan Surabaya dan Rumkital Marinir Gunung Sari Surabaya.

4.2.2 Sampel
Sampel penelitian diambil dari semua kasus hernia elektif di RSAL Dr. Ramelan Surabaya dan Rumkital Marinir Gunung Sari Surabaya. Dilakukan operasi Herniotomi secara Lichstenstein. Operasi dilakukan oleh trainee bedah Digestif yang telah menyetujui untuk melakukan penelitian.

4.2.2.1 Besar sampel
Besarnya sampel ditentukan menurut perhitungan berdasarkan proporsi sampel tunggal ,dengan rumus sebagai berikut :
2
Z α + Z β
n = + 3
(1 + r)
0,5 ln
(1 - r)

Z α 0,05 = 1,96
Z β 0,20 = 0,842
r = 0,5 ( Oleh karena jumlah dan kualitas fibroblast sebagai penyebab primer hernia belum diketahui )
Rumus korelasi :
2
1,96 + 0,842
n = + 3
1 + 0,5
0,5 ln
1 – 0,5

n = 29,05 dibulatkan menjadi 30  ± 10 % = 33.

4.2.2.2 Pengambilan sample
Sampel dipilih secara consequtive sampling berdasarkan criteria inklusi dan eksklusi. Sampel yang terkumpul kemudian dievaluasi kebutuhan biaya selama operasi, evaluasi kenyamanan selama operasi dan evaluasi angka kekambuhan sampai kurun waktu tertentu.

4.2.3 Kriteria inklusi
1. Semua kasus primer elektif hernia
2. Usia dewasa muda (14-60 tahun)
3. Semua kasus operasi herniotomi elektif dengan segala penyebabnya
4. Penderita telah bebas dari penyebab terjadinya HIL, misal: batuk kronis, obstipasi kronis, obstruksi saluran kencing
5. Menyetujui dilakukan penelitian

4.2.4 Kriteria ekslusi
1. Bukan merupakan kasus hernia yang elektif
2. Tidak bersedia dilakukan penelitian
3. Operator tidak bersedia kerjasama

4.3 Variabel penelitian
Pada penelitian ini variable penelitian yang diteliti adalah :
1. Jumlah biaya yang dikeluarkan penderita tanpa mengikutkan jasa medis.
2. Evaluasi rasa nyaman penderita selama operasi.
3. Evaluasi angka rekurensi paska operasi.

4.4 Definisi operasional
1. Hernia Inguinalis Lateralis adalah suatu hernia yang terjadi karena keluarnya organ intraperitoneal melalui annulus internus kemudian masuk kedalam kanalis inguinalis dan keluar ke annulus eksternus.
2. Operasi hernia yang dilakukan adalah herniotomi Lichstenstein. Lichstentein yaitu menggunakan prolene mesh
3. Biaya.
4. Evaluasi rasa nyaman.
5. Evaluasi angka kekambuhan.

4.5 Prosedur penelitian
1. Semua penderita HIL yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutkan dalam penelitian
2. Dilakukan pencatatan identitas meliputi : nomor register, nama, umur, jenis kelamin, alamat dan tanggal pemeriksaan.
3. Dicatat sejarah penyakit : waktu kejadian, sebab kejadian.
4. Pemeriksaan fisik secara lengkap
5. Penderita atau keluarga diberi penjelasan lengkap mengenai maksud, tujuan, dan prosedur penelitian. Selanjutnya menandatangani surat pernyataan (informed consent) bila penderita atau keluarga setuju ikut dalam penelitian
6. Didaftarkan jadwal operasi elektif di RSAL Dr. Ramelan Surabaya dan Rumkital Marinir Gunung Sari Surabaya.
7. Anestesi dengan lokal tanpa sedasi. Posisi penderita terlentang
8. Desinfeksi lapangan operasi luar dengan menggunakan larutan betadine 10 %
9. Lapangan operasi dipersempit dengan menggunakan kain steril.
10. Dilakukan operasi herniotomi sesuai prosedur yang telah ditetapkan

4.6 Kerangka operasional

4.7 Lokasi dan waktu penelitian
4.7.1 Lokasi
Penelitian dilakukan di kamar operasi di RSAL Dr. Ramelan Surabaya dan Rumkital Marinir Gunung Sari Surabaya..

4.7.2 Waktu penelitian
Penelitian dilakukan dari bulan ...... tahun.......
4.8 Tahap Penelitian
Tahap I

Tahap II

Tahap III

Tahap IV

Tahap V

Tahap VI

Tahap VII

Tahap VIII

4.9 Pengumpulan Data, Analisa Data dan Biaya Penelitian
4.9.1 Pengumpulan data
Data penelitian dikumpulkan dalam suatu formulir penelitian yang telah disiapkan kemudian dilakukan entry data dengan menggunakan software SPSS ver 13.0

4.9.2 Analisa data
Analisa data terhadap biaya yang dibutuhkan selama operasi , kenyamanan selama operasi dan terjadinya kekambuhan paska menggunakan uji korelasi Spearman rank-order correlation . Skala yang dipakai adalah skala ordinal.

4.9.3 Biaya Penelitian

5. Hasil Penelitian.
Seratus penderita Hernia Inguinalis Lateralis Reponibilis yang masuk dalam kriteria penelitian dilakukan repair hernia dengan menggunakan anestesi lokal tanpa monitor, 91 penderita merupakan hernia pada satu sisi dan 8 penderita hernia bilateral, kesemua penderita belum pernah dilakukan tindakan hernioraphi. 8 penderita memerlukan perawatan setelah tindakan operasi karena berasal dari luar kota sedangkan lainnya langsung bisa pulang setelah evaluasi beberapa jam paska tindakan.
Seluruh penderita dilakukan evaluasi setelah 3 bulan baik secara langsung ataupun komunikasi melalui telepon. Didapatkan 6 penderita mengeluh nyeri karena adanya oedema dan hematom disekitar luka operasi dan menghilang setelah 14 hari perawatan luka.
Dari 100 lembaran isian yang kembali berjumlah 79, didapatkan 68 penderita menyatakan setuju dengan prosedur yang telah dilakukan apabila mengalami kondisi yang sama, 5 penderita menolak bila dilakukan prosedur seperti ini bila mengalami kasus yang sama sedangkan 6 penderita menjawab tidak tahu.Hasil penilaian kenyamnanan selama tindakan pembedahan ataupun nyeri 10 penderita mengeluh nyeri dan tidak nyaman selama operasi dan 5 diantaranya menyarankan perlu tindakan dan pembiusan dengan cara lainnya. Ketidaknyamanan dan komplikasi setelah operasi didapatkan pada 6 penderita. Evaluasi mengenai biaya dari lembaran isian yang kembali menyatakan sangat membantu karena lebih murah disamping itu juga lebih praktis.

6. Pembahasan.
Kriteria utama keberhasilan dari tindakan pembedahan tanpa perawatan dirumah sakit adalah meliputi aspek Reliability yaitu kemungkinan untuk dilakukan, aspek Feasibility yaitu kemudahan untuk dilakukan dan aspek Safety dan Satisfaction yaitu keamanan dan kepuasan pada penderita, Pemilihan teknik pembiusan sebenarnya bergantung kepada obat anestesi, tindakan pembedahan dan faktor penderita. Tindakan operasi tanpa rawat inap pada kasus Hernia Inguinalis Lateralis Reponibilis merupakan pilihan terbaik. Sampai saat ini penggunaan anestesi lokal pada repair hernia belum menjadi protokol di Rumah Sakit Pendidikan di Indonesia, demikian juga teknik tension free hernia repair (Lichtenstein operation) masih baru digunakan pada beberapa rumah sakit pendidikan. Padahal teknik operasi hernia dengan lokal anestesi seharusnya bisa menjadi standar bagi penanganan hernia. Pada kasus yang telah dilakukan tindakan pembedahan tidak memerlukan pemberian sedasi sehingga residual efeknya yang meliputi retensi urin, nausea, vomiting ataupun sedasi tidak ada.
Kondisi preoperative dan pemilihan penderita yang masuk kriteria sangat penting untuk menghindari konversi ke genaral anestesi. Penderita tua bukan merupakan kontra indikasi untuk tindakan lokal anestesi, Sosial faktor yang menjadi sebab penderita perlu perawatan rumah sakit karena berasal dari luar kota.
Dari total 100 penderita Hernia Inguinalis Lateralis Ireponibilis telah dilakukan terapi dengan Repair hernia metode Lichtenstein selama periode 18 bulan sejak Januari 2007 sampai dengan Juni 2008. Umur rata-rata adalah 42.16 tahun (21-76 tahun) dan keseluruhannya penderita laki-laki
Dari evaluasi penanganan hernia inguinalis lateralis dengan anestesi lokal tanpa penggunaan sedasi adalh mudah untuk dilakukan dan dan aman dikerjakan setelah melalui seleksi penderita dan biarpun tidak ada yang perlu konvesri ke general anestesi harus dikerjakan dirumah sakit dengan fasilitas untuk general anestesi.
Evaluasi nyeri selama operasi dan postoperasi dievaluasi selama 2 jam, sebelum dilakukan tindakan pembedahan penderita terlebih dahulu diberikan ketoprofen supositoria 2 buah kemudian dilanjutkan desinfeksi daerah operasi dan prosedur pemberian anestesi lokal dengan menggunakan lidokain dengan atau tanpa epineprin disesuaikan dengan kondisi penderita, evaluasi nyeri dengan menggunakan Visual Analog Scale (VAS), didapatkan hasil sebagai berikut dari 100 penderita 6 penderita termasuk nyeri ringan atau skala 1 dari VAS dan 2 penderita termasuk nyeri sedang atau skala 2 dari VAS, sedangkan yang lainnya tidak mengeluh nyeri selama prosedur operasi dan 2 jam post operasi.
Dari evaluasi 3 bulan post operasi tidak didapatkan penderita yang mengalami residif dan memerlukan tindakan pembedahan, evaluasi dilakukan secara langsung dengan pemeriksaan ataupun komunikasi melalui telepon.

Daftar Pustaka

1. George EW, Abdominal Wall Hernias. In: Schwartz, Tom S, Frank CS, editors. Principles of Surgery. 7nd ed. New York: McGraw-Hill; 1999.p.1585-611
2. McIntosh A, Hutchinson A, Roberts A et al. Evidence-based management of groin hernia in primary care. Oxf j Surg 2000; 17: 442–447.
3. Anon G, Indirect Inguinal Hernia, Emerg Surg; Last up date August 15; 2007; 91; 947-52
4. Warko K, Ahmad D, editors. Dinding perut,hernia, retroperitoneum dan omentum, In: Sjamsuhidayat R, Wim DJ, Buku Ajar Ilmu Bedah. Revisi ed. Jakarta: EGC; 1998.p.700-10
5. Alex J, Eustace SG, editors. Abdominal Hernias. Last up date16 may; 2007. Available from : http://www.emedicine.com/MED/topic1089.htm
6. Lee C, Gale Enc Surg. Inguinal Hernia Repair 2004; Available from: "http://en.Encyc.org/gale/Inguinal_hernia repair"
7. Richard A, Inguinal Canal and Hernia Examination. 2000; Available from : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=cm.chapter.3091
8. Henry S, The Treatment of Indirect Inguinal Hernia. ANZ J Surg 2005; 5: 366-70
9. Richard SS, editors. Clinical Anatomy for Medical Students. 3nd ed. Washington: EGC; 1995.p.155-203
10. Skandalakis JE, Gray SW, Mansberger AR et al, Hernia of the abdominal wall. In Hernia surgical anatomy and technique, McGraw-Hill Singapore ;1989:144-56
11. Abrahamson J. Hernias. In Maingot’s Abdominal operations, 2002. Zinner MJ, Schwartz S Ellis H, editors. 10th. Vol.1. Appleton& lange,Singapore1997;14: 479-580
12. Soetamto W, Puruhito, Setiono B, editors. Pedoman Teknik Operasi. Surabaya: Airlangga University; 2001.p.89-98
13. Thomas C, Cells of Connective Tissues: "Fibroblasts" and "Fibrocytes", in Connective Tissue. 2001. Available from : www. education.vetmed.vt.edu
14. Dorairajan N, Inguinal hernia-yesterday, today and tomorrow; 2003 Indian J Surg .2004
15. Jonathan D, Abrogation of fibroblast activation protein enzymatic activity attenuates tumor growth. Am J Surgery; 2005;4:351-360
16. Marcus VC, Sylvia S, Helmut K et al, Basic Fibroblast Growth Factor Synthesis by Human Peritoneal Mesothelial Cells; Am J Pathol. Dec 1999; 155(6): 1977–84
17. Chowbey PK, Pithawala M, Khullar R et al, Totally extraperitoneal repair of inguinal hernia. A case for bilateral repair. J of Min Acc Surg; 2006; 2; 171-3
18. Kuga AT. Morisaki AK. Nakamura A et al, Construction of a TransplantableTissue-Engineered Artificial Peritoneum. Eur Surg Res 2004; 36: 323–30

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar